Minggu

Warna warni Pemilu 2009

Sebelum pemilu diadakan, wajar jika suasana politik menjadi panas. Ada yang melakukan lobi-lobi ke daerah, kampanye hitam, serta manuver-manuver lainnya yang dilakukan oleh para politikus, partai dan simpatisannya..

Ya, pemilu langsung yang untuk kedua kalinya digelar di negeri ini telah menjadi perhatian dunia. Sebut saja Malaysia, Amerika Serikat, Denmark, Belgia dan Australia mengirim utusannya datang ke Indonesia demi menyaksikan perhelatan akbar demokrasi di negeri kita. Sebelumnya pada pemilu langsung yang pertama pada tahun 2004 memang berjalan dengan sukses dan mengundang perhatian dunia. Indonesia disebut negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan memiliki kompleksitas yang begitu tinggi ternyata mampu menjalankan roda demokrasi di wilayahnya. Tentunya kita bangga atas penghargaan dari negara-negara sahabat.

Ada 1 hal yang mengganggu pikiran saya, apakah benar Indonesia telah benar-benar berhasil menjalankan prinsip-prinsip demokrasi?? Jika melihat pemilu tahun ini malu rasanya setelah apa yang telah dikatakan oleh negara-negara sahabat mengenai demokrasi kita. Kita digadang-gadang menjadi kiblat negara demokrasi di wilayah asia, namun dalam pelaksanaannya penuh dengan cacat. KPU sebagai pihak yang berkompeten dalam hal ini tidak mampu mengatasi tekanan-tekanan dan melepas bayang-bayang kesuksesan di pemilu sebelumnya.

Sudah menjadi rahasia umum jika pemilu tahun 2009 ini adalah yang terburuk sejak era reformasi negeri kita. Begitu banyak masalah yang muncul, entah itu karena banyaknya partai peserta pemilu, cara penetapan DPS dan DPT yang tidak tepat hingga menimbulkan pemilih ganda, sampai kurangnya sosialisasi yang dilakukan mengenai tata cara pemilu yang memang menggunakan cara baru. Ah, memang benar kata pepatah dulu, ketika pohon masih kecil, ia akan aman dari tiupan kencang dari angin, namun ketika pohon telah semakin besar dan tinggi, takkan pernah angin berhenti menerpanya.


Para peserta capres pada pemilu 2009 ini kebanyakan lebih mempertontonkan ketidakkonsistenannya sendiri. Sebut saja PDI-P bersama bu Mega. Di awal-awal kampanyenya bisa dikatakan inilah partai yang paling gigih sebagai partai oposisi. Bantuan Langsung Tunai atau BLT merupakan program pemerintah yang paling sering disorotnya. "Pemberian BLT adalah membodohi rakyat, daripada uang yang dibagi-bagikan lebih baik digunakan untuk membangun infrastruktur masyarakat, itu jelas kelihatan mamfaatnya", begitulah bunyi dari kampanyenya yang saya lihat di televisi. Nampaknya bu Mega dan partainya tidak memahami arti dan esensi dari pemberian BLT. Maksud pemerintah baik kok dibilang membodohi rakyat?? (saya bukan membelain pemerintah, tapi ini menurut pengamatan saya).

Coba anda kaji sendiri penjelasan saya berikut ini:
Pada saat itu harga minyak dunia melambung tinggi, pemerintah mau tidak mau harus menaikkan harga BBM demi menyelamatkan APBN, APBN itu sudah dirancang di awal tahun dan disahkan DPR, jadi tidak bisa seenaknya merubah biaya belanja negara.. Balik lagi ke masalah BLT, nah ketika harga BBM sudah naik, harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya juga ikut naik, tapi PENDAPATAN ATAU DAYA BELI MASYARAKAT TETAP-TETAP SAJA ATAU BAHKAN TURUN, maka diperlukan langkah-langkah untuk menyelamatkan masyarakat kecil yang tidak mampu, yaitu dengan pemberian BLT lah cara pemerintah. Dengan memberi uang langsung, diharapkan bisa menjaga daya beli mereka tadi untuk tetap tinggi atau tidak jatuh.. Anda mengerti kan sekarang?

Kembali pada permasalahan bu Mega dan PDI-P, ada ketidakkonsistenan yang ditunjukkan mereka dalam sikapnya mengenai BLT. Jika awalnya mengatakan BLT itu membodohi rakyat, sekarang malah mengatakan "kami mengawal pemberian BLT kepada masyarakat" ini kan lucu. Entah apa yang ada di benak mereka. Apakah ada kepentingan-kepentingan politiskah yang membuat mereka ganti strategi, saya tidak tahu.

Pak JK begitu juga halnya. Sebelum pileg dilaksanakan, sebagai kandidat dari partai Golkar yang merupakan partai pemenang pemilu tahun 2004 merasa yakin akan menang atau paling tidak sukses lagi. Ia mengeluarkan pernyataan bahwa dapat lebih cepat dan lebih tegas jika menjadi presiden. Pernyataan ini jelas melukai sang partner, SBY, ujung-ujungnya jelas SBY meninggalkan JK. Terbukti ketika hasil pileg telah diketahui dan partai Demokrat sebagai pemenangnya, JK berusaha merapat lagi ke SBY, tapi sayang nasi telah menjadi bubur. Jika pak JK mengatakan "keadaanlah yang membuat SBY-JK berpisah" maka pak JK lah yang membuat keadaan itu. Andai saja ia tidak termakan provokasi (salah satu kader partai demokrat keseleo lidah, mengatakan kalau partai demokrat belum tentu berkoalisi lagi dengan Golkar), dan sabar serta tidak bereaksi berlebihan menanggapi masalah itu, dan menunggu klarifikasi langsung dari SBY, tentu saja kebersamaannya dengan SBY takkan berakhir.

SBY? Setelah putus dari JK, bak gadis cantik, tidak sulit baginya menemukan pasangan baru. Namun tampaknya pasangan barunya memiliki kesamaan dengan sang mantan;)

0 Comment (s):

Poskan Komentar

It's totally free for submitting comments :D
Fill the name with your ID or your Nickname! And do not put any link or your comment will reject.. (I hate spam)

Template by : Software and Symbian Mobile